Rabu, 04 Oktober 2017

Nostalgia

Embun basah yang menggelayut pada hamparan rerumputan di tanah miring pegunugngan yang tak lapang. Aku sempat melempar doa pada pandangan samar yang berkabut. Ku harap aku selalu bisa pulang, memeluk mu dari kejauhan, mencium mu dari jarak yang tak dekat, bercumbu dan bercinta dalam keheningan, bersama teduh nya awan dan pekatnya malam.
Aku tak lagi peduli soal keberadaan mu, entahlah dimana. Memeluk mu erat dalam hayalan aku tetap senang saja, karena aku selalu percaya, doa tau dimana alamat si pemilik hati ini. Dan aku percaya, doa akan selalu sampai pada si pemilik rindu yang telah lama pergi.

Aku tak pernah bisa lupa, dengan celoteh kita di malam lalu. tentang hamparan yang selalu kita bicarakan. Saat itu kita duduk bersanding di kursi panjang yang sedikit basah karena embun, diantara pekatnya malam namun penuh gemintang dan terangnya rembulan. ketika kau sedang senang-senangnya menatap bintang dan aku senang-senangnya memandang mu. momen manis yang tak pernah bisa ku lupakan.
Dan Kini hanya tinggal aku tersisa. Duduk sendiri dihamparan awan luas, di ujung senja yang hangat memeluk dan air mata karena benar-benar merindukan mu. seharusnya kita disini kembali bersanding berdua. berteriak keras. Karena kita berhasil mewujudkan harapan itu. Namun nyatanya tidak.
Esok aku akan kembali pulang, ku harap kau juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar