Hari ini sudah beberapa kali hujan turun, aroma yang ku rindukan beberapa bulan ini kini sudah kembali bisa kunikmati. juga kenangan lama yang sudah tak ku hiraukan, kini kembali menampakan diri. Sampai tak sengaja ku membuka galeri foto di handphone ku, tersenyum-senyum kecil. Aku tak mengerti, kenapa semua yang tak ada lagi selalu meninggalkan manis. Bergurau bersama riuhnya debur hujan di luar jendela. Apa?, Kenapa?, Luka lama begitu saja hilang karena rindu yang mendera.
Perpisahan tanpa salam yang tak pernah bisa aku lupakan, begitu pedih dan perih. Menanti nya berpulang, meski ku sadari ia takan pernah kembali, sembari berlari-lari kecil memekik “Apakabar, aku merindukan mu Sayang?”.
Memang benar, Yang terbaik takan pernah bisa terganti??!!. Oh, , tidak. Maksudku, Yang terbaik takan pernah pergi se-enak hati.
Foto lawas penuh ceria yang kini telah kandas. Menyimpan kenangan bukan lah sesuatu yang mudah bukan?, tapi tak bijak memaksa melupakannya. sebab sepahit atau segetir apapun kenangan itu, kelak akan begitu manis dan berharga ketika kita merindukannya. Jadi ada baiknya dirapihkan dengan baik, meski dalam kondisi hati yang tidak baik.
Dan entah kenapa, ketika sedang rindu-rindunya selalu saja teringat perapalannya yang begitu manis, yang pernah membuat ku terbuai, terlena dan membuat bungah. juga membuat ku berpikir. Atau apa memang benar dia adalah orang yang baik, dan aku lah yang tidak tepat untuknya. Sebab, terkadang ketika kita kecewa atau pun terluka, kita selalu membela diri dan menganggap kita selalu benar, dan menganggap apapun yang kita ucapkan dan kita lakukan adalah hal yang baik. dan sebaliknya apapun yang dia ucapkan dan dia lakukan nampak salah dalam pandangan kita. Dan kita seolah membuat mindset sendiri, bahwa dia membuat kita terluka, Dia yang membuat kita kecewa.
Tanpa kita menyadari hal yang sebenarnya di balik kepergiannya yang tanpa salam itu. Bisa saja ia pergi begitu saja, karena ia tahu. Salam kepergian adalah mata padang yang begitu berkarat dan tumpul, yang menusuk pegitu teramat perih kerelung hati yang pernah berbunga indah dan membuat hancur seketika. Karena itulah ia enggan tuk mengucapkan salam yang menyakitkan itu. Dan lebih baik memilih pergi dan hilang begitu saja, serta meninggalkan semua kenangan di hati yang begitu penuh harapan dalam sebuah penantian. Meski sama-sama menyisakan luka, namun setidaknya pergi tanpa salam bisa meredam kebencian walau meninggalkan kekecewaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar